SELAMAT DATANG DI ISTANA PERMADI
(Mari Berbagi Walau Hanya Narasi)

Selasa, 18 September 2012

permadi`s cerpen



Segelas Teh Persahabatan
By: Warno Adi Susilo
Malam mulai merambat seiring jarum jam yang terus-menerus berdetak, berputar konstan mengiringi malam yang semakin beku dan bisu. Angin berhembus sedikit kencang menebar dingin. Hembusanya seakan seperti  bongkahan-bongkahan es yang menyerbu dengan brutal dari segala arah, membuat sekujur tubuh seakan membeku.  Tak ada lagi aktivitas di Pondok Pesantren Karang Sari. Hanya bangunan tua yang juga terpaku diam dalam gelap yang menyelimuti setiap sudutnya. Seekor Cicak mengendap-endap di langit-langit sudut Aula, mengintai serangga-serangga kecil yang terbang di sekitar lampu neon yang nyalanya mulai redup, sesekali berkedip karena sebagianya telah menghitam.
Di depan sana seseorang duduk menengadah ke langit sambil sesekali menghembuskan nafasnya yang berat. Seolah beban berton-ton keluar bersama kepulan uap air dari mulutnya. Tak jelas apa yang membebani pikiranya saat ini. Sudah dua hari ini lelaki jangkung itu murung, tepatnya saat ia menyadari ada yang berubah dari dua sahabatnya.
Ya, biasanya malam-malam begini ia sudah terlelap bersama dua sahabatnya di sudut Aula sana, setelah lelah bercanda bersama dan bertukar cerita. Tapi entah kenapa dua malam  ini kedua sahabatnya tak lagi bersamanya. Mungkin ia juga mengingat tadi siang. Adi, teman yang  dua tahun ini duduk di bangku yang sama, seakan berusaha menjauh. Ia selalu berusaha terlihat sibuk saat Ihsan mencoba membuka percakapan. Ia seakan melupakan saat-saat mengukir mimpi bersama di pelataran Masjid Al-Muttaqin dulu. Mereka berdua berjanji akan selalu berjalan beriringan sampai kapanpun untuk bersama-sama memungut sejumput demi sejumput ilmu. Mereka berjanji akan melangkah bersama menaiki tangga-tangga kesuksesan yang telah mereka rakit dalam imajinasi.
“Ingat kawan, serapuh apapun kaki-kaki kita tak akan menghentikan langkah yang telah kita mulai. Keadaan boleh menggerogoti tubuh ini tapi tak akan sedikitpun melelehkan semangat dan juga persaudaraan kita,” Ucap Adi waktu itu sambil menggenggam tangan si jangkung Ihsan, sebelum keduanya terlelap dengan semangat yang membumbung, pikiran mereka telah terbang bersama mimpi yang melangit.
Kini Ihsan berpindah ke dapur, duduk sendiri di samping dispenser usang peninggalan kakak kelas. Dispenser yang telah menelan 5 kursi kelas karena satu-persatu lapuk di gerogoti air yang selalu merembes dari sudut-sudutnya yang bocor. Ia ingat sekali saat membuat teh  bersama Adi dan Farid dengan gelas yang sekarang ada dalam genggamanya. Dengan gelas ini mereka bersama menikmati manisnya hidup untuk sejenak melupakan beban  yang mereka hadapi, atau bersama membuat alasan konyol untuk esok hari saat ada tagihan SPP. Gelas ini tak sekedar tempat menyeduh teh, lebih dari itu gelas ini seperti tempat hati mereka bertemu, berdekapan erat dalam satu ruang yang pengap.  Hemmm, sayang kini ia sendiri menikmati teguk demi teguk teh yang mulai  dingin dalam genggamanya.
***
Tandas sudah teh dalam genggaman Ihsan, tapi masalah tetap berjubel dan bergulung-gulung memenuhi setiap rongga di kepalanya. Sebegitu pentingkah kehadiran dua sahabatnya sampai ia harus merasa kehilangan seperti ini? Sahabat seperti halnya perpaduan  teh, gula, dan air dalam gelas. Tak akan tercipta teh yang nikmat jika ketiganya enggan larut dan saling memaksakan ego pribadi.  Harusnya tak ada yang menonjolkan peran salah satunya, Semuanya akan merasa berguna dan saling melengkapi dalam segelas persahabatan. Teh tak akan berasa apa-apa tanpa kehadiran air dan guIa, begitu juga bagi yang lainya. Dan itulah mereka, tiga orang beda nasib beda pemikiran tapi satu pandangan. Farid yang jago komputer, Ihsan yang terlalu mahir dalam Kimia, juga Adi yang tidak ada masalah dalam Fisika tak pernah mempermasalahkan semua itu. Bagi mereka setiap orang akan memiliki pembawaan masing-masing, baik itu kelebihan atau juga kekurangan yang selamanya tak bisa dipaksakan satu dengan yang lainya. Jangan di paksakan air menjadi api, juga jangan paksa api menjadi angin yang hanya akan menghilangkan jati dirinya. Yang paling penting adalah bagaimana menjadikan api, angin, dan air dalam diri masing-masing saling mendukung bukan malah saling mematikan dan menjatuhkan. Dan sekarang hal inilah yang sedang Ihsan rasakan. Ia merasakan dirinya tak lagi punya peran, tak lagi berguna dalam persahabatan ini. Apa mungkin kedua temanya telah menemukan campuran lain yang lebih nikmat, apakah mungkin dirinya  sudah terlalu membosankan? “Aku harus tahu jawabanya sekarang,” Kata Ihsan   seraya bangkit menuju kamar.
Pelan ia membuka pintu kamar, ia urung untuk menyalakan lampu, takut jika hal itu mengganggu teman yang lainya. Tapi baru selangkah  masuk ia berhenti. Kamar itu gelap, tapi matanya masih bisa melihat jika ada dua ranjang yang kosong, dan itu adalah ranjang Adi dan Farid. Ia melangkah mendekat, membaringkan tubuh kecilnya di atas ranjang yang ditinggalkan pemiliknya. Ia menutup matanya dengan bantal, mencoba menyembunyikan matanya yang telah sembab, ia menangis. “Kawan beri aku alasan, jangan siksa aku dengan pengasingan seperti ini. Apa yang salah sampai kalian menjauh dariku.” Ia berbicara lirih di sela isak tangisnya yang tertahan.
***
Sore ini sehabis Asar, Ihsan bersiap-siap dengan raketnya. Di bawah sana teman-teman yang lain telah menunggu. Kali ini ia tetap harus semangat bertanding walau tanpa tandem sehatinya. Tandem yang selama ini telah membawanya pada kemenangan demi kemenangan. Adi menolak main hari ini, ia tampak tergesa-gesa keluar dengan Farid, dan sekali lagi tanpa mengajaknya. Entah apa yang ingin dilakukan keduanya di luar sana, Ihsan tak tahu itu dan mungkin tak akan pernah tahu. Karena sekarang ia telah menjadi orang asing bagi keduanya. Ia seakan tak punya hak lagi untuk sekedar tahu apa yang akan mereka lakukan, apapun itu.
Dan sekarang lapangan kecil ini berubah menjadi ladang pembantaian untuk Ihsan, dirinya tak kuasa menahan gempuran gempuran yang terus menghujani area bermainya. Tentunya hal ini tidak akan terjadi jika ada Adi di sana. Ihsan sama sekali tak menemukan irama bermain dengan tandem barunya seperti saat ia berdampingan dengan Adi. Ia harus berjuang mati-matian walaupun akhirnya menyerah dua set langsung, hal ini membuatnya harus rela meninggalkan arena yang selama ini ia menjadi raja sekaligus merelakan gelar yang sudah di depan mata itu melayang. Tapi hal ini tak sebanding rasa sakitnya seperti saat sahabat yang dicintai meninggalkan dirinya, tanpa sebab yang jelas juga tanpa alasan yang terucap sampai saat ini. Ia bisa segera melupakan kekalahan di pertandingan final barusan, tapi tidak untuk kepergian kedua sahabatnya itu.
***
Matahari sudah tak tampak, hanya menyisakan warna hitam pekat di angkasa. Hanya sedikit kelip bintang yang kebetulan lolos dari cengkeraman mendung yag sedari maghrib membentang di langit Karang Sari. Udara dingin berhembus pelan membius mata-mata lelah, membuatnya pelan-pelan terpejam dalam balutan selimut tebal, di kamar, di masjid, juga di aula. Bahkan di kelas juga nampak puluhan santri yang tengah terlelap. Mereka semua tertidur lelap di temani suara jangkrik dan katak sawah yang menghasilkan irama seperti gesekan biola di panggung orkestra.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 11.45, suasana kelas XI IPA pun sepi, hanya Ihsan sendiri yang masih terlihat di dalam, akan tetapi ia juga sudah tertelungkup di meja, ia tertidur bersama buku yang tadi di bacanya. Ruang kelas yang gelap berhasil menyembunyikan sisa tangisanya malam ini.
Sementara di balik pintu, dua pasang mata tampak memperhatikan. Samar-samar tampak keduanya mengendap-endap masuk. Tak tampak jelas apa yang mereka lakukan. Hanya gemeretak suara kursi yang tergeser. Kejadian itu berlangsung hampir limabelas menit, setelah itu kelas kembali senyap.
Dhuaaarrrrr..... !
Suara petasan membelah kesunyian malam, dalam sekejap kepulan asap hampir memenuhi ruang kelas. Ihsan nampak kaget terbangun bersamaan dengan lampu-lampu kelas yang menyala, bukunya entah terlempar kemana. Ia melongo, berputar mengamati keadaan di sekitarnya sambil sesekali mengucek matanya seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bangku-bangku dan meja telah berganti dengan gelaran tikar. Di atasnya nampak tertata rapi kue yang diapit makanan aneka warna lengkap dengan minuman, juga ada nasi tumpeng lengkap dengan ayam panggang teronggok dalam wadah nampan besar, semua orang tahu nampan itu pasti ngambil di ruang laboratorium bekas praktik kemarin.
“Ka..kaliann?”
“Bagaimana bisa... ini semua kerjaan kalian?”
“Happy milad saudaraku,” ucap Adi seketika itu sambil memeluk sahabatnya. Farid pun mendekat dan merangkul sahabatnya itu, kini mereka berpelukan erat.
“Kami tak akan meninggalkanmu sobat, tak akan pernah.”suara Farid bergetar di sela isak tangis mereka bertiga.
Ihsan masih terdiam, tak mampu berkata-kata.
“Maafkan kita berdua ya! Mungkin beberapa hari ini membuat kamu sedih. Kamu pasti berfikir kalau kita berdua telah melupakan kamu. Kamu juga pasti mau bertanya apa yang kami lakukan di luar.”Seloroh Farid seakan tahu semua apa yang ada di pikiran Ihsan.
“Atau waktu aku menolak main tadi sore?” Adi menimpali.
”Maafkan aku teman, aku sudah mendengar berita kekalahan kelas kita. Dan itu semua karena kesalahanku, aku terpaksa menolak main karena harus mengambil pesanan ini.”Adi berkata dengan raut muka penuh penyesalan, Ia berhenti sejenak.
“Tadinya kita berdua hanya merencanakan makan bersama, buat ngerayain kenaikan kelas kita. Setelah dilihat waktunya pas banget dengan kelahiran kamu, ya sudah sekalian aja bikin kejutan. Sayang, harusnya malam ini sekalian kita merayakan kemenangan kelas kita, tapi.....”
“Sudahlah semuanya telah berlalu, ada yang lebih berharga dari sekedar kemenangan. Yaitu kebersamaan dannn.......”Ihsan tak melanjutkan bicaranya.
Ketiganya saling pandang, sebelum akhirnya!
“Sikaaatttttttt...!”
***
Hujan akhirnya tumpah malam ini, mengguyur setiap jengkal bumi Karang Sari. Titik-titiknya kini telah berubah aliran air di ujung genting yang menghunjam tanah. Mencipta genagan yang menebar aroma tanah basah yang menyeruak memenuhi setiap rongga-rongga dada. Aliran airnya seperti kepalan tangan yang ingin memahatkan apa yang ingin di ukir di atas jiwa-jiwa yang sepi. Tapi terkadang titik-titiknya seperti tangan halus yang menyemai seroja.
Dan malam ini seroja itu telah tumbuh dan berbunga harum dalam jiwa Ihsan. Tak ada lagi kebahagiaan yang yang mengalahkan dengan kembalinya sahabatnya saat ini. Kehadiranya mampu mencairkan kebekuan malam, kini, dan selamanya.


Jakarta, 12 Agustus 2012
















Tentang Penulis


Warno adi susilo, lahir di Wonogiri 30 Juli 1989. Menyukai bidang cipta puisi sejak kelas X SMA sesaat setelah puisi pertamanya di muat di harian Solopos ( Pupus, dan Rindu terpancung). Dua tahun kemudian yaitu di tahun 2006 berhasil menjadi juara II lomba cipta puisi di Semarang sebagai perwakilan dari Kab. Boyolali. Sempat vakum setelah lulus SMA tepatnya ketika harus berjuang hidup di Ibukota. Jauh dari keluarga membuatnya harus berjuang dengan apapun untuk bisa survive, kerja paruh waktu juga berdagang menjadi kesibukan baru sampai sekarang. Di masa akhir studinya di Ma`had Ali Annuaimy kembali menemukan cinta lamanya yaitu “Menulis”. penulis mencatatkan namanya sebagai anggota di salah satu wadah kepenulisan ( FAM ), dengan harapan bisa lebih banyak menimba ilmu kepenulisan hingga nantinya mimpinya jadi penulis menjadi kenyataan.
Penulis bisa dihubungi melalui hp: 083139305567, FB: Warno Adi Susilo, alamat: Kenteng Rt 03/02, Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah 57695, Email : satriamadukara@gmail.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar