Segelas Teh Persahabatan
By: Warno Adi Susilo
Malam mulai merambat seiring jarum jam yang terus-menerus berdetak,
berputar konstan mengiringi malam yang semakin beku dan bisu. Angin berhembus
sedikit kencang menebar dingin. Hembusanya seakan seperti bongkahan-bongkahan es yang menyerbu dengan
brutal dari segala arah, membuat sekujur tubuh seakan membeku. Tak ada lagi aktivitas di Pondok Pesantren Karang
Sari. Hanya bangunan tua yang juga terpaku diam dalam gelap yang menyelimuti
setiap sudutnya. Seekor Cicak mengendap-endap di langit-langit sudut Aula,
mengintai serangga-serangga kecil yang terbang di sekitar lampu neon yang
nyalanya mulai redup, sesekali berkedip karena sebagianya telah menghitam.
Di depan sana seseorang duduk menengadah ke langit sambil sesekali
menghembuskan nafasnya yang berat. Seolah beban berton-ton keluar bersama
kepulan uap air dari mulutnya. Tak jelas apa yang membebani pikiranya saat ini.
Sudah dua hari ini lelaki jangkung itu murung, tepatnya saat ia menyadari ada
yang berubah dari dua sahabatnya.
Ya, biasanya malam-malam begini ia sudah terlelap bersama dua
sahabatnya di sudut Aula sana, setelah lelah bercanda bersama dan bertukar
cerita. Tapi entah kenapa dua malam ini
kedua sahabatnya tak lagi bersamanya. Mungkin ia juga mengingat tadi siang. Adi,
teman yang dua tahun ini duduk di bangku
yang sama, seakan berusaha menjauh. Ia selalu berusaha terlihat sibuk saat
Ihsan mencoba membuka percakapan. Ia seakan melupakan saat-saat mengukir mimpi
bersama di pelataran Masjid Al-Muttaqin dulu. Mereka berdua berjanji akan
selalu berjalan beriringan sampai kapanpun untuk bersama-sama memungut sejumput
demi sejumput ilmu. Mereka berjanji akan melangkah bersama menaiki
tangga-tangga kesuksesan yang telah mereka rakit dalam imajinasi.
“Ingat kawan, serapuh apapun kaki-kaki kita tak akan menghentikan
langkah yang telah kita mulai. Keadaan boleh menggerogoti tubuh ini tapi tak
akan sedikitpun melelehkan semangat dan juga persaudaraan kita,” Ucap Adi waktu
itu sambil menggenggam tangan si jangkung Ihsan, sebelum keduanya terlelap
dengan semangat yang membumbung, pikiran mereka telah terbang bersama mimpi
yang melangit.
Kini Ihsan berpindah ke dapur, duduk sendiri di samping dispenser
usang peninggalan kakak kelas. Dispenser yang telah menelan 5 kursi kelas
karena satu-persatu lapuk di gerogoti air yang selalu merembes dari
sudut-sudutnya yang bocor. Ia ingat sekali saat membuat teh bersama Adi dan Farid dengan gelas yang
sekarang ada dalam genggamanya. Dengan gelas ini mereka bersama menikmati
manisnya hidup untuk sejenak melupakan beban yang mereka hadapi, atau bersama membuat
alasan konyol untuk esok hari saat ada tagihan SPP. Gelas ini tak sekedar
tempat menyeduh teh, lebih dari itu gelas ini seperti tempat hati mereka
bertemu, berdekapan erat dalam satu ruang yang pengap. Hemmm, sayang kini ia sendiri menikmati teguk
demi teguk teh yang mulai dingin dalam
genggamanya.
***
Tandas sudah teh dalam genggaman Ihsan, tapi masalah tetap berjubel
dan bergulung-gulung memenuhi setiap rongga di kepalanya. Sebegitu pentingkah
kehadiran dua sahabatnya sampai ia harus merasa kehilangan seperti ini? Sahabat
seperti halnya perpaduan teh, gula, dan
air dalam gelas. Tak akan tercipta teh yang nikmat jika ketiganya enggan larut
dan saling memaksakan ego pribadi. Harusnya tak ada yang menonjolkan peran salah
satunya, Semuanya akan merasa berguna dan saling melengkapi dalam segelas
persahabatan. Teh tak akan berasa apa-apa tanpa kehadiran air dan guIa, begitu
juga bagi yang lainya. Dan itulah mereka, tiga orang beda nasib beda pemikiran
tapi satu pandangan. Farid yang jago komputer, Ihsan yang terlalu mahir dalam
Kimia, juga Adi yang tidak ada masalah dalam Fisika tak pernah mempermasalahkan
semua itu. Bagi mereka setiap orang akan memiliki pembawaan masing-masing, baik
itu kelebihan atau juga kekurangan yang selamanya tak bisa dipaksakan satu
dengan yang lainya. Jangan di paksakan air menjadi api, juga jangan paksa api
menjadi angin yang hanya akan menghilangkan jati dirinya. Yang paling penting
adalah bagaimana menjadikan api, angin, dan air dalam diri masing-masing saling
mendukung bukan malah saling mematikan dan menjatuhkan. Dan sekarang hal inilah
yang sedang Ihsan rasakan. Ia merasakan dirinya tak lagi punya peran, tak lagi
berguna dalam persahabatan ini. Apa mungkin kedua temanya telah menemukan
campuran lain yang lebih nikmat, apakah mungkin dirinya sudah terlalu membosankan? “Aku harus tahu
jawabanya sekarang,” Kata Ihsan seraya bangkit menuju kamar.
Pelan ia membuka pintu kamar, ia urung untuk menyalakan lampu, takut
jika hal itu mengganggu teman yang lainya. Tapi baru selangkah masuk ia berhenti. Kamar itu gelap, tapi
matanya masih bisa melihat jika ada dua ranjang yang kosong, dan itu adalah
ranjang Adi dan Farid. Ia melangkah mendekat, membaringkan tubuh kecilnya di
atas ranjang yang ditinggalkan pemiliknya. Ia menutup matanya dengan bantal,
mencoba menyembunyikan matanya yang telah sembab, ia menangis. “Kawan beri aku
alasan, jangan siksa aku dengan pengasingan seperti ini. Apa yang salah sampai
kalian menjauh dariku.” Ia berbicara lirih di sela isak tangisnya yang
tertahan.
***
Sore ini sehabis Asar, Ihsan bersiap-siap dengan raketnya. Di bawah
sana teman-teman yang lain telah menunggu. Kali ini ia tetap harus semangat bertanding
walau tanpa tandem sehatinya. Tandem yang selama ini telah membawanya pada
kemenangan demi kemenangan. Adi menolak main hari ini, ia tampak tergesa-gesa
keluar dengan Farid, dan sekali lagi tanpa mengajaknya. Entah apa yang ingin
dilakukan keduanya di luar sana, Ihsan tak tahu itu dan mungkin tak akan pernah
tahu. Karena sekarang ia telah menjadi orang asing bagi keduanya. Ia seakan tak
punya hak lagi untuk sekedar tahu apa yang akan mereka lakukan, apapun itu.
Dan sekarang lapangan kecil ini berubah menjadi ladang pembantaian
untuk Ihsan, dirinya tak kuasa menahan gempuran gempuran yang terus menghujani
area bermainya. Tentunya hal ini tidak akan terjadi jika ada Adi di sana. Ihsan
sama sekali tak menemukan irama bermain dengan tandem barunya seperti saat ia
berdampingan dengan Adi. Ia harus berjuang mati-matian walaupun akhirnya
menyerah dua set langsung, hal ini membuatnya harus rela meninggalkan arena
yang selama ini ia menjadi raja sekaligus merelakan gelar yang sudah di depan
mata itu melayang. Tapi hal ini tak sebanding rasa sakitnya seperti saat
sahabat yang dicintai meninggalkan dirinya, tanpa sebab yang jelas juga tanpa
alasan yang terucap sampai saat ini. Ia bisa segera melupakan kekalahan di
pertandingan final barusan, tapi tidak untuk kepergian kedua sahabatnya itu.
***
Matahari sudah tak tampak, hanya menyisakan warna hitam pekat di
angkasa. Hanya sedikit kelip bintang yang kebetulan lolos dari cengkeraman
mendung yag sedari maghrib membentang di langit Karang Sari. Udara dingin
berhembus pelan membius mata-mata lelah, membuatnya pelan-pelan terpejam dalam
balutan selimut tebal, di kamar, di masjid, juga di aula. Bahkan di kelas juga
nampak puluhan santri yang tengah terlelap. Mereka semua tertidur lelap di
temani suara jangkrik dan katak sawah yang menghasilkan irama seperti gesekan
biola di panggung orkestra.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 11.45, suasana kelas XI IPA pun
sepi, hanya Ihsan sendiri yang masih terlihat di dalam, akan tetapi ia juga
sudah tertelungkup di meja, ia tertidur bersama buku yang tadi di bacanya.
Ruang kelas yang gelap berhasil menyembunyikan sisa tangisanya malam ini.
Sementara di balik pintu, dua pasang mata tampak memperhatikan.
Samar-samar tampak keduanya mengendap-endap masuk. Tak tampak jelas apa yang
mereka lakukan. Hanya gemeretak suara kursi yang tergeser. Kejadian itu
berlangsung hampir limabelas menit, setelah itu kelas kembali senyap.
Dhuaaarrrrr..... !
Suara petasan membelah kesunyian malam, dalam sekejap kepulan asap
hampir memenuhi ruang kelas. Ihsan nampak kaget terbangun bersamaan dengan
lampu-lampu kelas yang menyala, bukunya entah terlempar kemana. Ia melongo,
berputar mengamati keadaan di sekitarnya sambil sesekali mengucek matanya
seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bangku-bangku dan meja telah
berganti dengan gelaran tikar. Di atasnya nampak tertata rapi kue yang diapit
makanan aneka warna lengkap dengan minuman, juga ada nasi tumpeng lengkap
dengan ayam panggang teronggok dalam wadah nampan besar, semua orang tahu
nampan itu pasti ngambil di ruang laboratorium bekas praktik kemarin.
“Ka..kaliann?”
“Bagaimana bisa... ini semua kerjaan kalian?”
“Happy milad saudaraku,” ucap Adi seketika itu sambil memeluk
sahabatnya. Farid pun mendekat dan merangkul sahabatnya itu, kini mereka
berpelukan erat.
“Kami tak akan meninggalkanmu sobat, tak akan pernah.”suara Farid
bergetar di sela isak tangis mereka bertiga.
Ihsan masih terdiam, tak mampu berkata-kata.
“Maafkan kita berdua ya! Mungkin beberapa hari ini membuat kamu
sedih. Kamu pasti berfikir kalau kita berdua telah melupakan kamu. Kamu juga
pasti mau bertanya apa yang kami lakukan di luar.”Seloroh Farid seakan tahu
semua apa yang ada di pikiran Ihsan.
“Atau waktu aku menolak main tadi sore?” Adi menimpali.
”Maafkan aku teman, aku sudah mendengar berita kekalahan kelas
kita. Dan itu semua karena kesalahanku, aku terpaksa menolak main karena harus
mengambil pesanan ini.”Adi berkata dengan raut muka penuh penyesalan, Ia
berhenti sejenak.
“Tadinya kita berdua hanya merencanakan makan bersama, buat
ngerayain kenaikan kelas kita. Setelah dilihat waktunya pas banget dengan
kelahiran kamu, ya sudah sekalian aja bikin kejutan. Sayang, harusnya malam ini
sekalian kita merayakan kemenangan kelas kita, tapi.....”
“Sudahlah semuanya telah berlalu, ada yang lebih berharga dari
sekedar kemenangan. Yaitu kebersamaan dannn.......”Ihsan tak melanjutkan
bicaranya.
Ketiganya saling pandang, sebelum akhirnya!
“Sikaaatttttttt...!”
***
Hujan akhirnya tumpah malam ini, mengguyur setiap jengkal bumi
Karang Sari. Titik-titiknya kini telah berubah aliran air di ujung genting yang
menghunjam tanah. Mencipta genagan yang menebar aroma tanah basah yang
menyeruak memenuhi setiap rongga-rongga dada. Aliran airnya seperti kepalan
tangan yang ingin memahatkan apa yang ingin di ukir di atas jiwa-jiwa yang
sepi. Tapi terkadang titik-titiknya seperti tangan halus yang menyemai seroja.
Dan malam ini seroja itu telah tumbuh dan berbunga harum dalam jiwa
Ihsan. Tak ada lagi kebahagiaan yang yang mengalahkan dengan kembalinya
sahabatnya saat ini. Kehadiranya mampu mencairkan kebekuan malam, kini, dan
selamanya.
Jakarta, 12 Agustus 2012
Tentang
Penulis
Warno adi
susilo, lahir di Wonogiri 30 Juli 1989. Menyukai bidang cipta puisi
sejak kelas X SMA sesaat setelah puisi pertamanya di muat di harian Solopos (
Pupus, dan Rindu terpancung). Dua tahun kemudian yaitu di tahun 2006 berhasil
menjadi juara II lomba cipta puisi di Semarang sebagai perwakilan dari Kab.
Boyolali. Sempat vakum setelah lulus SMA tepatnya ketika harus berjuang hidup
di Ibukota. Jauh dari keluarga membuatnya harus berjuang dengan apapun untuk
bisa survive, kerja paruh waktu juga berdagang menjadi kesibukan baru sampai
sekarang. Di masa akhir studinya di Ma`had Ali Annuaimy kembali menemukan cinta
lamanya yaitu “Menulis”. penulis mencatatkan namanya sebagai anggota di salah
satu wadah kepenulisan ( FAM ), dengan harapan bisa lebih banyak menimba ilmu
kepenulisan hingga nantinya mimpinya jadi penulis menjadi kenyataan.
Penulis bisa dihubungi melalui hp:
083139305567, FB: Warno Adi Susilo, alamat: Kenteng Rt 03/02, Purwantoro,
Wonogiri, Jawa Tengah 57695, Email : satriamadukara@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar