SELAMAT DATANG DI ISTANA PERMADI
(Mari Berbagi Walau Hanya Narasi)

Selasa, 18 September 2012

Profil Sastrawan Indonesia “Mohammad Diponegoro”: ...

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia: Profil Sastrawan Indonesia “Mohammad Diponegoro”: ...: Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, 28 Juni 1928 – meninggal 9 Mei 1982 pada umur 53 tahun. Ia menyelesaikan pendidikannya di HIS Muha...

Profil Sastrawan Dunia: Najib Al-Kailani (1931-199...

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia: Profil Sastrawan Dunia: Najib Al-Kailani (1931-199...: Najib lbrahim bin Abd al-Lathiif al-Kailani dilahirkan tanggal 10 Juni 1931 di Syarsyabah, suatu desa di wilayah bagian barat Republik Ara...

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia: Dihina dan Diejek Berpenampilan Buruk, Lizzie Vela...

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia: Dihina dan Diejek Berpenampilan Buruk, Lizzie Vela...: Adakah wanita berpenampilan fisik amat buruk? Ada. Wanita yang kurang beruntung itu adalah Lizzie Velasquez. Gadis 23 tahun ini lahir tanp...

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia: Pengumuman Sayembara Cipta Cerpen Tingkat Pelajar ...

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia: Pengumuman Sayembara Cipta Cerpen Tingkat Pelajar ...: Te ma: Masalah kemiskinan, anak jalanan, dan orang terlantar Deadline: 5 Desember 2012 Pengumuman Pemenang: 15 Desember 2012 ...

permadi`s cerpen



Ada cinta di masri
Kreeek….. pelan kubuka jendela, di luar masih gelap. Sejuk angin pagi menerobos masuk kamar, dingin menghempas mukaku. Diiringi sayup-sayup suara terbata-bata mas Ari membaca  Al-Qur’an. Suaranya timbul tenggelam bersaing dengan kokok ayam, juga riuh cericit anak-anak ayam bersahut-sahutan menjawab panggilan induknya.
Aku kembali merebahkan diri di kasur, mencoba memejamkan mata karena semalam tak memejamkan mata sepicingpun. Biasanya habis subuh begini aku sudah jalan-jalan dengan Tuti. Di tengah hamparan sawah Mbah Somo kami menghabiskan waktu pagi, mengamati sisa-sisa embun yang mengkristal di pucuk-pucuk daun padi, darinya akan muncul puluhan warna yang terpancar saat hangat mentari pagi menerpanya.
Tapi sudah dua hari ini tuti tak datang, biasanya wajah jenakanya sudah menyembul dari balik pintu kamar saat aku masih melipat sajadah dan mukena. Sambil tersenyum dengan senyuman khasnya. Dua hari yang lalu ia bilang mau pergi sekeluarga menjenguk kerabatnya di Surabaya.
Pandanganku memudar, dan suara cericit anak-anak ayam di samping rumah semakin tak terdengar. Aku hampir terlelap, tapi setengah sadar aku mendengar suara pintu di ketuk. Aku terjaga…
“Nur… wis padang nduk, gek adus!!!” suara lembut Emak di balik pintu.
“Ya Mak…” dengan malas aku bagkit, kepalaku masih terasa pening, kusambar handuk dan dengan langkah gontai aku berjalan ke kamar mandi.
***
Habis mandi aku kembali ke kamar. Pagi ini aku tak ke mana-mana. Mamak pergi ke pasar aku di suruh jaga rumah. Kurebahkan kembali tubuh ini sambil bersandar di bantal, sambil kembali lagi membuka diary. Ya, aku menamainya diary padahal di dalamnya hanya berisi salinan sms-sms mas Adi. Waktu empat tahun membuat sms-sms itu memenuhi lembar demi lembarnya.
10/05/2012
“ Kak… gy ngapa?.
Aku ingat itu adalah sms terakhirku, biasanya ia akan membalasnya dengan panjang lebar,  tak lupa ia pasti juga akan menyelipkan canda yang menjadi ciri khasnya. Bahkan ia lebih sering langsung menelephon dan tanpa ku mintapun ia akan bercerita dengan sendirinya, dari pengalaman sampai cerita-cerita waktu masih kecil. Apa saja bisa jadi bahan ceritanya. Ia lebih seperti pendongeng yang selalu membawakan cerita-cerita untukku tiap malam sampai aku terlelap dengan sesungging senyuman.
Tapi kali ini lain dari biasanya, bukan canda bukan cerita yang ia kirimkan. Tapi, kata-kata yang selalu membuat malam-malamku muram, memaksa butiran kristal bening ini mengalir di pipiku.
“ maaf dik, kaka sibuk”
Hanya itu jawabanya. Tapi, setelah itu kirim sms lagi,
“ dua minggu lagi kaka pulang, dan kita akhiri cinta kita”
Kata-kata itu bagai pukulan telak di ulu hatiku, setiap katanya seperti bilahan batu-batu  tajam yang menghunjam tubuhku, dadaku sesak…
***
Cinta tak kenal ruang, pun juga tak kenal dengan hitungan angka…ia bebas berkeliaran dan singgah di manapun ia inginkan. Cinta juga bebas pergi tanpa kata dan tanpa sedikitpun rasa bersalah. Cinta itu seperti angin…begitu halus, namun terkadang ia juga bisa menjelma topan yang siap mengobrak-abrik setiap jiwa yang di laluinya. Tapi sehalus apapun cinta itu ada, ia nyata…aku bisa mendengar bisikanya. Ya…hanya sebatas ini yang ku pahami tentang cinta…
Aku masih heran dengan pikiran mas Adi. Secepat itukah ia berubah. Tak ingatkah ia dengan janjinya dulu akan datang menjemputku untuk mengukuhka ikatan ini. tak tahukah ia , bahwa aku di sini tetap bertahan untuk tetap setia menunggu. Aku rasa kebersamaan selama 4 tahun bukanlah waktu yang singkat, itu adalah waktu yang cukup lama jika hanya untuk sebuah kepalsuan seperti ini. tapi inilah kenyataan yang harus aku telan. Sepahit apapun itu… sekarang hanya ada dua pilihan; melupakan atau tak mengingatnya sama sekali.
***
Seminggu sudah aku berjuang untuk melupakanya, tapi nihil. Kenyataanya bayanganya tak mau beranjak dari ingatanku. Jujur aku tak siap jika harus kehilangan sosoknya. aku merasa kehilangan segalanya saat  ku coba untuk melupakanya. Sosok selama ini begitu perhatian, selalu menemani malam-malamku walau hanya dengan untaian kata-kata bijaknya, juga puisi-puisi yang selalu mengalir seperti tak pernah kehabisan kata. Walau selama in aku tak pernah bertemu, tapi aku begitu merasakan kedekatan. Begitu dekatnya sampai aku seolah-olah mendengar ia berbisik di telingaku.” Tetap semangat dan tersenyum dinda”.
Memang kata-kata itu terkesan biasa, namun tidak bagiku. Kata-kata itu seperti cambuk yang mampu melecut semangatku. Kata-kata ini mampu membuat langkahku terasa ringan walau badan terasa penat. Tapi, aku telah kehilangan semua itu. kini aku harus berjalan sendirian, takan ada lagi orang yang akan menenangkan saat hati gundah, dan ternyata aku terlalu lemah untuk menanggung semua ini.
***
Pagi ini segaja kuhabiskan untuk membaca catatan-catatan lama, pandanganku terhenti dan anganku terseret pada kenangan masa lalu saat sampai pada lembaran ini, lembaran yang masih terlihat rapi serapi aku menyimpan cinta ini…
Melatiku,,,,
Aku tak ingin serpihan hati kita terbias jadi pelangi
Walau indah, namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin sejuk embun hatiku bersatu dengan hijau kelopakmu
Walau sejuk, Namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin kebersamaan kita bagai mimpi sesaat
Hanya menyisakan gelisah dan rasa bersalah
Biarkanlah aku melangkah
Sepeti titik-titik air hujan yang mencoba lepas dari cengkeraman langit
Walau akhirnya bumi akan menelanku
Yakinlah aku akan kembali
( adi.s )

Ini adalah puisi yang ia kirimkan sehari sebelu ia berangkat ke Ibu kota. Kata-katanya begitu dalam dan terkesan tak main-main. Membacanya membuatku merasa yakin bahwa suatu saat nanti ia akan datang meredam rinduku. Dan besok dia benar-benar akan datang, tapi tidak untuk meredam rindu ini. justru ia akan datang untuk mencabut kembali hiasan yang ia sematkan di hatiku… perih… perih sekali. Sungguh ini suatu yang tak pernah terbayangkan sebelumya.Aku ingin menjerit saat itu juga. Tapi sekeras apapun aku menjerit tak akan ada orang yang  mendengarnya.
***
pagi itu masih begitu hening, belum ada tanda-tanda kehidupan. Yang terdengar hanya gemerisik daun-daun yang tergesek angin. Sesekali terdengar kokok ayam tetangga yang terdengar begitu semangat menyambut pagi.
 Kulirik jam weker, “masih jam tiga, subuh masih lama” pikirku.
Udara dingin semakin membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. Kurapatkan lagi selimutku. Tapi sejurus kemudian Hpku menjerit. Ada pesan masuk.
” Ah… mungkin si Tuti, biasanya jam segini ia yang sms”. Batinku mencoba menerka. Segera ku raih handphonku.
“ assalamu’alaikum… nanti sore kita ketemu di sungai masri”
Rasa kantukku menguap, mendadak jiwaku terbang menerobos  padang ilalang. Aku terjatuh, basah kuyup. Ku lihat sekeliling lengang dan sepi. Tak hanya jiwaku yang terbang seakan ragaku juga ikut  merasakan sejuknya setiap titik air yang menerpaku.seakan gemericik air sungai masri 4 tahun yang lalu terdengar jelas di telingaku
Sebenarnya sungai ini bukan sungai masri namanya. Nama itu aku dan mas Adi yang memberikanya. Ini satu-satunya sungai yang terindah di desaku. Begitu luas karena merupakan pertemuan tiga sungai, sehingga lebih mirip dengan danau. Di tengahnya ada gundukan tanah yang membentuk pulau kecil dengan pohon beringin yang tumbuh di tengahnya. Untuk ke pulau itupun sangat mudah karena ada jembatan bambu yang menghubungkanya dengan tepian. Tepat di samping pohon beringin itu berdiri saung kecil yang di kelilingi semak ilalang. Ada juga satu dua rumpun melati yang ikut berdesakan.
Di sinilah empat tahun yang lalu aku dan mas Adi bertemu. Aku masih ingat saat mas Adi meletakkan anyaman akar beringin yang di padu dengan rangkaian kuntum melati di kepalaku.
“ terimalah Srikandiku…” ucapnya dengan penuh pengharapan waktu itu.
 kemudian ia mundur selangkah dan berlutut di depanku, dengan penuh pengharapan ia membacakan puisi untukku. Ah… benar-benar cinta yang sederhana namun begitu membekas. Sejak saat itu kami sepakat menamai sungai itu dengan sungai Masri. Kami berharap agar kelak kami benar-benar di persatukan dengan ikatan yang kukuh seperti ikatan Permadi dan srikandi.
Inilah kenanganku di sungai itu, kenangan yang membuatku tetap bertahan selama ini. ya, setelah itu kami berpisah karena ingin sama-sama melanjutkan studi. Dan besok adalah kali ke-dua kami bertemu di sana. Tapi bukan untuk mengukuhkan hubungan ini, tidak… ternyata kemarau datang lebih cepat, saat kuncup ini mulai mekar hingga memaksanya luruh dan gugur dengan paksa.
Kami akan bertemu untuk mengakhiri semuanya. Empat tahun aku berjalan, mencoba bertahan walau telapak ini penuh dengan kucuran darah. Tubuhku remuk redam menahan gundah kering kerongkonganku menahan dahaga dalam terik padang pasir ini. tapi yang ku tuju selama ini hanya fatamorgana. Sia-sia memang, tapi harus gimana lagi. Tak mungkin kiranya aku kembali ke belakang. Sudah terlalu jauh aku melangkah. Kakiku  tak kuasa lagi menopang tubuh ini. aku hanya pasrah jika memang tubuhku harus terkubur bersama cinta ini.


Pukul 14:00 WIB
     Mantap aku melangkahkan kaki menyisir jalan setapak yang mengantarkanku pada kehancuran. Rimbun ilalang di kiri-kanan jalan tinggi meliuk-liuk, mengangguk-angguk takzim. Sambil melantunkan irama yang menyayat di bawah komando angin.hatiku berdesir hebat. Ku tarik nafas panjang, ku keluarkan kuat-kuat untuk mengurangi rasa gugup ini.
“ ah… aku tak boleh kalah, aku harus kuat. Air mata boleh meleleh, tapi tidak untuk semangatku.aku ingin tetap hidup walau tak mendapatkan apa yang aku cintai.”, bisikku pada diri sendiri.
Dua puluh menit aku sampai di tepian sungai Masri. Ku edarkan pandangan,” tak ada yang berubah, masih seperti dulu”. Pikirku.
 Ku basuh mukaku agar tak terlihat bekas-bekas tangis sepanjang perjalanan tadi. Ceeeeessss… dingin menyusup saat butiran air menyentuh pori-poriku. Bergegas aku melewati jembatan bambu. Dua rumpun melati itu seakan melambai memberi isyarat agar aku mempercepat langkah. Dua rumpun ini dulu yang menjadi saksi atas cinta kami. Tapi, kali ini dua rumpun ini pula yang akan menyaksikan perpisahan kami.
“ ehmm… Sudah lama menunggu Dik???, suara Mas Adi mengagetkan aku. Lamunanku terhenti, aku bangkit.
“ belum”, jawabku singkat.
 Ku angkat wajahku, siiirrr…. Dadaku berdesir hebat saat pandangan kami bertemu. Segera aku berpaling, mencoba mengendalikan diri. Aku masih terpaku saat mas Adi melangkah ke saung.
Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku sudah siap melepas dan mengembalikan hiasan yang ia titipkan di hatiku. Empat tahun aku menjaganya kini tiba saatnya aku mengembalikanya. Tapi apa daya, aku semakin ak terkendali. Dadaku berdegup kencang, bibirku bergetar tapi tak sepatah katapun kata yang keluar dari mulutku. Aku seperti anak kecil yang berlatih bicara. Hanya gumaman lirih tak bermaksud yang keluar dari mulutku.
 Lama kami hanya diam, tenggelam dalam perasaan masing-masing. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, hanya pasrah menunggu keputusan.
“ sebelumya kakak minta maaf, karena mengambil keputusan ini” akhirnya ia bersuara memecah kesunyian. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan…
“ dik… sadarkah engkau kalau perjalanan kita selama ini seperti perjalanan matahari. Kita tak bisa menuntut ia selalu hangat, selalu indah seperti saat terbit. Karena kenyataanya ia merambat naik dan takan terasa hangat lagi. Ada saat dimana ia terasa begitu terik, sebelum akhirnya tergelincir menunduk pasrah ketika senja mencengkeram. Ia pun akan meredup dan akhirnya lenyap….”. mas Adi menggeser letak duduknya sambil melepas nafasnya yang terasa begitu berat sebelum melanjutkan ceritanya…
“ sudah empat tahun kita bersama, waktu yang cukup lama bukan??. Selama itu pula kita merasakan pahit, manis, susah, senang, bahagia juga galau saat satu hari tak ada kabar. Selama itu pula kita merasa dekat walau sejatinya berjauhan karena hati kita telah bercengkeraman erat. Tak jarang pula kita berjuang melawan kesepian, rindu yang membuncah, dan rasa itu akan mencipta luka yang menganga, karena kita tak pernah bisa menemukn obatnya. Dan sekarang???” suaranya agak bergetar…
” aku sudah muak… aku sudah bosan jika selamanya jiwa ini selamanya di hantui dengan perasaan galau dan rindu yang menyakitkan ini. maka di tempat ini… detik ini juga kita kahiri saja cinta kita.”, ia semakin tertunduk.
 aku melihat sekilas air matanya mengalir. Ia melangkah mendekatiku, aku semakin sesenggukan…
“Tataplah aku dik …!!!”, bisiknya dengan penuh harap.
Aku semakin tertunduk, menangis sejadi-jadinya. Aku sadari ternyata aku memang lemah. Walau mulut ini  mengatakan rela untuk melepas, tapi itu sama sekali tak sesuai dengan kenyataan… toh aku juga tetap menangis.
“ dik… ikhlaskah jika Kaka melamarmu???” bisiknya tiba-tiba.
Sontak aku terkejut, ku angkat wajahku. Aku masih belum percaya dengan apa ya aku dengar barusan.
“ dik Nur…  sekali lagi kaka Tanya, ikhlaskah jika kaka melamarmu dan kita segera menikah”. Bisiknya dengan menunduk.
 Matanya terpejam menahan air matanya agar tak tumpah.
 “ hingga tak perlu lagi tersiksa saat rindu datang mendera, karena sudah tak ada lagi sekat di antara kita.tak ada lagi perasaan berdosa saat kita igin berlama-lama bersama..” ia meneruskan ucapanya dengan sesenggukan.sementara  aku hanya diam terlarut dalam tangis.
“ tak ridhokah engkau  jika kita akhiri segala yang telah kita lalui untuk awal yang indah, lebih indah dari perpaduan bitang-bintang dan rembulan di langit malam???. Ia menutup kalimatnya dengan linangan air mata.
Entahlah aku tak tahu apa yang sekarang aku rasakan. Aku tak mampu berkata-kata, yang jelas kata-kata tak mampu menggambarkan apa yang sekarang aku rasakan. Sambil bersimpuh aku hanya bisa meremas tanah merah di depanku, dan kudapati semua itu nyata… semua itu nyata…

                                                             


permadi`s cerpen



Segelas Teh Persahabatan
By: Warno Adi Susilo
Malam mulai merambat seiring jarum jam yang terus-menerus berdetak, berputar konstan mengiringi malam yang semakin beku dan bisu. Angin berhembus sedikit kencang menebar dingin. Hembusanya seakan seperti  bongkahan-bongkahan es yang menyerbu dengan brutal dari segala arah, membuat sekujur tubuh seakan membeku.  Tak ada lagi aktivitas di Pondok Pesantren Karang Sari. Hanya bangunan tua yang juga terpaku diam dalam gelap yang menyelimuti setiap sudutnya. Seekor Cicak mengendap-endap di langit-langit sudut Aula, mengintai serangga-serangga kecil yang terbang di sekitar lampu neon yang nyalanya mulai redup, sesekali berkedip karena sebagianya telah menghitam.
Di depan sana seseorang duduk menengadah ke langit sambil sesekali menghembuskan nafasnya yang berat. Seolah beban berton-ton keluar bersama kepulan uap air dari mulutnya. Tak jelas apa yang membebani pikiranya saat ini. Sudah dua hari ini lelaki jangkung itu murung, tepatnya saat ia menyadari ada yang berubah dari dua sahabatnya.
Ya, biasanya malam-malam begini ia sudah terlelap bersama dua sahabatnya di sudut Aula sana, setelah lelah bercanda bersama dan bertukar cerita. Tapi entah kenapa dua malam  ini kedua sahabatnya tak lagi bersamanya. Mungkin ia juga mengingat tadi siang. Adi, teman yang  dua tahun ini duduk di bangku yang sama, seakan berusaha menjauh. Ia selalu berusaha terlihat sibuk saat Ihsan mencoba membuka percakapan. Ia seakan melupakan saat-saat mengukir mimpi bersama di pelataran Masjid Al-Muttaqin dulu. Mereka berdua berjanji akan selalu berjalan beriringan sampai kapanpun untuk bersama-sama memungut sejumput demi sejumput ilmu. Mereka berjanji akan melangkah bersama menaiki tangga-tangga kesuksesan yang telah mereka rakit dalam imajinasi.
“Ingat kawan, serapuh apapun kaki-kaki kita tak akan menghentikan langkah yang telah kita mulai. Keadaan boleh menggerogoti tubuh ini tapi tak akan sedikitpun melelehkan semangat dan juga persaudaraan kita,” Ucap Adi waktu itu sambil menggenggam tangan si jangkung Ihsan, sebelum keduanya terlelap dengan semangat yang membumbung, pikiran mereka telah terbang bersama mimpi yang melangit.
Kini Ihsan berpindah ke dapur, duduk sendiri di samping dispenser usang peninggalan kakak kelas. Dispenser yang telah menelan 5 kursi kelas karena satu-persatu lapuk di gerogoti air yang selalu merembes dari sudut-sudutnya yang bocor. Ia ingat sekali saat membuat teh  bersama Adi dan Farid dengan gelas yang sekarang ada dalam genggamanya. Dengan gelas ini mereka bersama menikmati manisnya hidup untuk sejenak melupakan beban  yang mereka hadapi, atau bersama membuat alasan konyol untuk esok hari saat ada tagihan SPP. Gelas ini tak sekedar tempat menyeduh teh, lebih dari itu gelas ini seperti tempat hati mereka bertemu, berdekapan erat dalam satu ruang yang pengap.  Hemmm, sayang kini ia sendiri menikmati teguk demi teguk teh yang mulai  dingin dalam genggamanya.
***
Tandas sudah teh dalam genggaman Ihsan, tapi masalah tetap berjubel dan bergulung-gulung memenuhi setiap rongga di kepalanya. Sebegitu pentingkah kehadiran dua sahabatnya sampai ia harus merasa kehilangan seperti ini? Sahabat seperti halnya perpaduan  teh, gula, dan air dalam gelas. Tak akan tercipta teh yang nikmat jika ketiganya enggan larut dan saling memaksakan ego pribadi.  Harusnya tak ada yang menonjolkan peran salah satunya, Semuanya akan merasa berguna dan saling melengkapi dalam segelas persahabatan. Teh tak akan berasa apa-apa tanpa kehadiran air dan guIa, begitu juga bagi yang lainya. Dan itulah mereka, tiga orang beda nasib beda pemikiran tapi satu pandangan. Farid yang jago komputer, Ihsan yang terlalu mahir dalam Kimia, juga Adi yang tidak ada masalah dalam Fisika tak pernah mempermasalahkan semua itu. Bagi mereka setiap orang akan memiliki pembawaan masing-masing, baik itu kelebihan atau juga kekurangan yang selamanya tak bisa dipaksakan satu dengan yang lainya. Jangan di paksakan air menjadi api, juga jangan paksa api menjadi angin yang hanya akan menghilangkan jati dirinya. Yang paling penting adalah bagaimana menjadikan api, angin, dan air dalam diri masing-masing saling mendukung bukan malah saling mematikan dan menjatuhkan. Dan sekarang hal inilah yang sedang Ihsan rasakan. Ia merasakan dirinya tak lagi punya peran, tak lagi berguna dalam persahabatan ini. Apa mungkin kedua temanya telah menemukan campuran lain yang lebih nikmat, apakah mungkin dirinya  sudah terlalu membosankan? “Aku harus tahu jawabanya sekarang,” Kata Ihsan   seraya bangkit menuju kamar.
Pelan ia membuka pintu kamar, ia urung untuk menyalakan lampu, takut jika hal itu mengganggu teman yang lainya. Tapi baru selangkah  masuk ia berhenti. Kamar itu gelap, tapi matanya masih bisa melihat jika ada dua ranjang yang kosong, dan itu adalah ranjang Adi dan Farid. Ia melangkah mendekat, membaringkan tubuh kecilnya di atas ranjang yang ditinggalkan pemiliknya. Ia menutup matanya dengan bantal, mencoba menyembunyikan matanya yang telah sembab, ia menangis. “Kawan beri aku alasan, jangan siksa aku dengan pengasingan seperti ini. Apa yang salah sampai kalian menjauh dariku.” Ia berbicara lirih di sela isak tangisnya yang tertahan.
***
Sore ini sehabis Asar, Ihsan bersiap-siap dengan raketnya. Di bawah sana teman-teman yang lain telah menunggu. Kali ini ia tetap harus semangat bertanding walau tanpa tandem sehatinya. Tandem yang selama ini telah membawanya pada kemenangan demi kemenangan. Adi menolak main hari ini, ia tampak tergesa-gesa keluar dengan Farid, dan sekali lagi tanpa mengajaknya. Entah apa yang ingin dilakukan keduanya di luar sana, Ihsan tak tahu itu dan mungkin tak akan pernah tahu. Karena sekarang ia telah menjadi orang asing bagi keduanya. Ia seakan tak punya hak lagi untuk sekedar tahu apa yang akan mereka lakukan, apapun itu.
Dan sekarang lapangan kecil ini berubah menjadi ladang pembantaian untuk Ihsan, dirinya tak kuasa menahan gempuran gempuran yang terus menghujani area bermainya. Tentunya hal ini tidak akan terjadi jika ada Adi di sana. Ihsan sama sekali tak menemukan irama bermain dengan tandem barunya seperti saat ia berdampingan dengan Adi. Ia harus berjuang mati-matian walaupun akhirnya menyerah dua set langsung, hal ini membuatnya harus rela meninggalkan arena yang selama ini ia menjadi raja sekaligus merelakan gelar yang sudah di depan mata itu melayang. Tapi hal ini tak sebanding rasa sakitnya seperti saat sahabat yang dicintai meninggalkan dirinya, tanpa sebab yang jelas juga tanpa alasan yang terucap sampai saat ini. Ia bisa segera melupakan kekalahan di pertandingan final barusan, tapi tidak untuk kepergian kedua sahabatnya itu.
***
Matahari sudah tak tampak, hanya menyisakan warna hitam pekat di angkasa. Hanya sedikit kelip bintang yang kebetulan lolos dari cengkeraman mendung yag sedari maghrib membentang di langit Karang Sari. Udara dingin berhembus pelan membius mata-mata lelah, membuatnya pelan-pelan terpejam dalam balutan selimut tebal, di kamar, di masjid, juga di aula. Bahkan di kelas juga nampak puluhan santri yang tengah terlelap. Mereka semua tertidur lelap di temani suara jangkrik dan katak sawah yang menghasilkan irama seperti gesekan biola di panggung orkestra.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 11.45, suasana kelas XI IPA pun sepi, hanya Ihsan sendiri yang masih terlihat di dalam, akan tetapi ia juga sudah tertelungkup di meja, ia tertidur bersama buku yang tadi di bacanya. Ruang kelas yang gelap berhasil menyembunyikan sisa tangisanya malam ini.
Sementara di balik pintu, dua pasang mata tampak memperhatikan. Samar-samar tampak keduanya mengendap-endap masuk. Tak tampak jelas apa yang mereka lakukan. Hanya gemeretak suara kursi yang tergeser. Kejadian itu berlangsung hampir limabelas menit, setelah itu kelas kembali senyap.
Dhuaaarrrrr..... !
Suara petasan membelah kesunyian malam, dalam sekejap kepulan asap hampir memenuhi ruang kelas. Ihsan nampak kaget terbangun bersamaan dengan lampu-lampu kelas yang menyala, bukunya entah terlempar kemana. Ia melongo, berputar mengamati keadaan di sekitarnya sambil sesekali mengucek matanya seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bangku-bangku dan meja telah berganti dengan gelaran tikar. Di atasnya nampak tertata rapi kue yang diapit makanan aneka warna lengkap dengan minuman, juga ada nasi tumpeng lengkap dengan ayam panggang teronggok dalam wadah nampan besar, semua orang tahu nampan itu pasti ngambil di ruang laboratorium bekas praktik kemarin.
“Ka..kaliann?”
“Bagaimana bisa... ini semua kerjaan kalian?”
“Happy milad saudaraku,” ucap Adi seketika itu sambil memeluk sahabatnya. Farid pun mendekat dan merangkul sahabatnya itu, kini mereka berpelukan erat.
“Kami tak akan meninggalkanmu sobat, tak akan pernah.”suara Farid bergetar di sela isak tangis mereka bertiga.
Ihsan masih terdiam, tak mampu berkata-kata.
“Maafkan kita berdua ya! Mungkin beberapa hari ini membuat kamu sedih. Kamu pasti berfikir kalau kita berdua telah melupakan kamu. Kamu juga pasti mau bertanya apa yang kami lakukan di luar.”Seloroh Farid seakan tahu semua apa yang ada di pikiran Ihsan.
“Atau waktu aku menolak main tadi sore?” Adi menimpali.
”Maafkan aku teman, aku sudah mendengar berita kekalahan kelas kita. Dan itu semua karena kesalahanku, aku terpaksa menolak main karena harus mengambil pesanan ini.”Adi berkata dengan raut muka penuh penyesalan, Ia berhenti sejenak.
“Tadinya kita berdua hanya merencanakan makan bersama, buat ngerayain kenaikan kelas kita. Setelah dilihat waktunya pas banget dengan kelahiran kamu, ya sudah sekalian aja bikin kejutan. Sayang, harusnya malam ini sekalian kita merayakan kemenangan kelas kita, tapi.....”
“Sudahlah semuanya telah berlalu, ada yang lebih berharga dari sekedar kemenangan. Yaitu kebersamaan dannn.......”Ihsan tak melanjutkan bicaranya.
Ketiganya saling pandang, sebelum akhirnya!
“Sikaaatttttttt...!”
***
Hujan akhirnya tumpah malam ini, mengguyur setiap jengkal bumi Karang Sari. Titik-titiknya kini telah berubah aliran air di ujung genting yang menghunjam tanah. Mencipta genagan yang menebar aroma tanah basah yang menyeruak memenuhi setiap rongga-rongga dada. Aliran airnya seperti kepalan tangan yang ingin memahatkan apa yang ingin di ukir di atas jiwa-jiwa yang sepi. Tapi terkadang titik-titiknya seperti tangan halus yang menyemai seroja.
Dan malam ini seroja itu telah tumbuh dan berbunga harum dalam jiwa Ihsan. Tak ada lagi kebahagiaan yang yang mengalahkan dengan kembalinya sahabatnya saat ini. Kehadiranya mampu mencairkan kebekuan malam, kini, dan selamanya.


Jakarta, 12 Agustus 2012
















Tentang Penulis


Warno adi susilo, lahir di Wonogiri 30 Juli 1989. Menyukai bidang cipta puisi sejak kelas X SMA sesaat setelah puisi pertamanya di muat di harian Solopos ( Pupus, dan Rindu terpancung). Dua tahun kemudian yaitu di tahun 2006 berhasil menjadi juara II lomba cipta puisi di Semarang sebagai perwakilan dari Kab. Boyolali. Sempat vakum setelah lulus SMA tepatnya ketika harus berjuang hidup di Ibukota. Jauh dari keluarga membuatnya harus berjuang dengan apapun untuk bisa survive, kerja paruh waktu juga berdagang menjadi kesibukan baru sampai sekarang. Di masa akhir studinya di Ma`had Ali Annuaimy kembali menemukan cinta lamanya yaitu “Menulis”. penulis mencatatkan namanya sebagai anggota di salah satu wadah kepenulisan ( FAM ), dengan harapan bisa lebih banyak menimba ilmu kepenulisan hingga nantinya mimpinya jadi penulis menjadi kenyataan.
Penulis bisa dihubungi melalui hp: 083139305567, FB: Warno Adi Susilo, alamat: Kenteng Rt 03/02, Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah 57695, Email : satriamadukara@gmail.com